Kamis, 20 Desember 2012

Makalah Agroteknologi - Pemilihan Bibit dan Penyemaian Benih


PENDAHULUAN
Pengertian Agroteknologi

Dilihat dari arti katanya Agroteknologi seperti mempelajari teknologi pertanian yang orang memandang lebih kepada teknologi mesin-mesin berat dalam pertanian. tetapi pandangan itu salah, Agroteknologi lebih mengarah pada pembelajaran dari teknologi pertanian dari segi budidaya tanaman, perlindungan tanaman dan media dari tanaman itu tumbuh. Jadi Agroteknologi ini lebih banyak mempelajari suatu teknologi bagaimana tanaman dapat tumbuh baik menghasilkan produk tinggi serta memberikan kemanfaatan pada lingkungan.
Prodi Agroteknologi ini mempelajari dua komponen yaitu tanaman dan tanah, dimana keduanya saling berhubungan. Tanaman tumbuh di atas tanah, oleh karena itu agar tanaman dapat tumbuh baik maka kita juga perlu tahu seluk beluk media tempat tanaman tumbuh. Banyak hal yang dipelajari dalam hal tanaman yaitu budidaya dan perlindungan tanaman itu sendiri. Dalam hal budidaya dilakukan beberapa praktikum yang telah dilakukan diantaranya ada teknologi budidaya tanaman baik semusim maupun tahunan, kultur jaringan, fisiologi tumbuhan, botani, teknologi benih, dll. Disini kita mempelajari dari bentuk benih hingga panen. Untuk media tanaman yaitu tanah kita juga melakukan beberapa praktikum yang digunakan untuk mengetahui fisika, kimia dan biologi tanah. Adapun praktikum yang dilakukan yaitu ilmu tanah, kesehatan tanah, biologi dan kesuburan tanah, mikrobiologi tanah, dll. Disini kita mempelajari kandungan dari suatu tanah, jenis tanah, fauna tanah hingga kerusakan suatu tanah. Selain itu, Agroteknologi juga mempelajari perlindungan tanaman terutama dari serangan hama dan penyakit tanaman.



PEMILIHAN BIBIT

Secara harfiah "BIBIT" mempunyai arti "BENIH" atau asal dari segala sesuatu yang berkembang (wujud) untuk kemudian dikembang biakan menjadi lebih banyak. Artinya jika anda berminat untuk mengembang biakan ataupun menernak sesuatu apapun maka anda terlebih dahulu harus memiliki "bibit" sebagai modal utama atau benih yang nantinya akan tumbuh beranak pinak.

Berikut ini adalah tips dalam memilih bibit/ benih tanaman :
1.     Bibit atau benih berasal dari induk yang baik.
2.    Tempat asal yang jelas menentukan pula mutu tanaman.
3.    Perhatikan daya kecambah pada label, atau tanyakan kepada penjual jika tidak berlabel.
4.    Perhatikan / tanyakan kepada penjual tentang bulan dan tahun benih yang dijual tersebut.
5.    Jika berupa bibit, tanaman sebaiknya telah mempunyai tinggi lebih dari 25 cm (dapat lebih kecil dari 25 cm dengan catatan lahan tanam telah diolah secara mekanis dua kai bajak).


Teknik Penyemaian Benih
A.   Pengertian Persemaian.
Yang dimaksudkan dengan persemaian (Nursery) adalah tempat atau areal untuk kegiatan memproses benih (atau bahan lain dari tanaman) menjadi bibit/semai yang siap ditanam di lapangan.
Kegiatan di persemaian merupakan kegiatan awal di lapangan dari kegiatan penanaman hutan karena itu sangat penting dan merupakan kunci pertama di dalam upaya mencapai keberhasilan penanaman hutan.
Penanaman benih ke lapangan dapat dilakukan secara langsung (direct planting) dan secara tidak langsung yang berarti harus disemaikan terlebih dahulu di tempat persemaian. Penanaman secara langsung ke lapangan biasanya dilakukan apabila biji-biji (benih) tersebut berukuran besar dan jumlah persediaannya melimpah. Meskipun ukuran benih besar tetapi kalau jumlahnya terbatas, maka benih tersebut seyogyanya disemaikan terlebih dulu. Pemindahan/penanaman bibit berupa semai dari persemaian ke lapangan dapat dilakukan setelah semai-semai dari persemaian tersebut sudah kuat (siap ditanam), misalnya untuk Pinus merkusii setelah tinggi semai antara 20-30 cm atau umur semai 8 – 10 bulan.
Pengadaan bibit/semai melalui persemaian yang dimulai sejak penaburan benih merupakan cara yang lebih menjamin keberhasilan penanaman di lapangan. Selain pengawasannya mudah, penggunaan benih-benih lebih dapat dihemat dan juga kualitas semai yang akan ditanam di lapangan lebih terjamin bila dibandingkan dengan cara menanam benih langsung di lapangan.

B.   Jenis Persemaian.
    1)   Persemaian sementara (Flyng nursery).
Jenis persemaian ini biasanya berukuran kecil dan terletak di dekat daerah yang akan ditanami. Persemaian sementara ini biasanya berlangsung hanya untuk beberapa periode panenan (bibit/semai) yaitu paling lambat hanya untuk waktu 5 tahun.  Keuntungan dan keberatan persemaian sementara adalah :
·         Keuntungan :
1.     Keadaan ekologi selalu mendekati keadaan yang sebenarnya.
2.    Ongkos pengangkutan bibit murah.
3.    Kesuburan tanah tidak terlalu menjadi masalah karena persemaian selalu berpindah tempat setelah tanah menjadi miskin.
4.    Tenaga kerja sedikit sehingga mudah pengurusannya.
·         Keberatannya:
1.     Ongkos persemaian jatuhnya mahal karena tersebarnya pekerjaan dengan hasil yang sedikit.
2.    Ketrampilan petugas sulit ditingkatkan, karena sering berganti petugas.
3.    Seringkali gagal karena kurangnya tenaga kerja yang terlatih.
4.    Lokasi persemaian yang terpancar menyulitkan pengawasan.
    2)   Persemaian Tetap.
Jenis persemaian ini biasanya berukuran (luasnya) besar dan lokasinya menetap di   suatu tempat, untuk melayani areal penanaman yang luas.
·         Keuntungan :
1.     Kesuburan tanah dapat dipelihara dengan pemupukan.
2.    Dapat dikerjakan secara mekanis bila dikehendaki.
3.    Pengawasan dan pemeliharaan lebih efisien, dengan staf yang tetap dan terpilih.
4.    Perencanaan pekerjaan akan lebih teratur.
5.    Produktivitas semai/bibit tinggi, kualitas bibit lebih baik dan pertumbuhannya lebih seragam.
·         Kerugiannya :
1.     Keadaan ekologi tidak selalu mendekati keadaan yang sebenarnya.
2.    Ongkos pengangkutan lebih mahal dibanding dengan jenis persemaian sementara.
3.    Membutuhkan biaya untuk investasi lebih tinggi dibanding persemaian sementara. Hal ini karena untuk persemaian tetap biasanya keadaan sarana (misal jalan angkutan, bangunan-bangunan di persemaian) dan prasarana (misal: peralatan kerja/angkutan ) lebih baik kualitas dan lebih mahal harganya dibanding yang diperlukan persemaian sementara.

C.   Pemilihan Lokasi Persemaian
Penentuan lokasi persemaian harus didahului dengan observasi lapangan. Untuk memilih lokasi persemaian persemaian yang baik, beberapa persyaratan yang perlu dipertimbangkan adalah :
1)   Aspek Teknis
ü  Letak lokasi persemaian.
Sejauh mungkin lokasi persemaian diusahakan terletak di tengah-tengah daerah penanaman atau berjarak sedekat mungkin ke setiap areal penanaman. Areal persemaian terbuka/kena sinar matahari cukup/langsung, mudah dijangkau setiap saat dan terlindung dari angin kencang.
ü  Jalan angkutan.
Adanya dekat jalan angkutan yang memadai sesuai keperluan, baik lewat darat maupun lewat air/sungai. Tanpa adanya jalan angkutan ini akan mempersulit pengawasan dan mempertinggi biaya angkutan.
ü  Luas Persemaian.
Luas persemaian tergantung pada jumlah semai yang diproduksi per tahun, cara penanaman, dan lamanya semai/bibit dipelihara di persemaian.

2)   Aspek Fisik
ü  Air.
Adanya sumber air dan persediaan dalam jumlah yang cukup di dekat persemaian sangat memudahkan keberhasilan persemaian. Kebutuhan air untuk persemaian tidaklah sama, tergantung pada jenis tanaman yang disemaikan.
ü  Media tumbuh/tanah.
Tanah merupakan salah satu komponen habitat (tempat tumbuh) tanaman. Tanaman akan tumbuh subur bila medium tumbuhnya subur dan merana bila medium tumbuhnya tidak subur.
Sebagai medium tumbuh semai, perlu diusahakan memilih tanah yang steril dan yang mempunyai sifat-sifat baik seperti porositas dan drainasenya baik, bebas batu dan kerikil. pH media sebaiknya berkisar antara 5 – 7 dan diusahakan tidak menggunakan tanah liat.
Pada tanah/media yang kurang subur dapat diberikan tambahan unsur hara dalam bentuk pupuk organik maupun anorganik.
Pupuk Organik
Pupuk organik (pupuk kandang, kompos dsb) merupakan sumber hara tetapi, kandungan unsur haranya rendah, dan untuk memperolehnya dalam jumlah banyak agak sulit. Pupuk organik dapat memperbaiki sifat kimia dan fisik tanah.
Pupuk Anorganik
Pupuk Anorganik biasa pula disebut pupuk buatan. Pupuk buatan yang penting digolongan penting adalah nitrogen, pupuk fosfat dan pupuk kalium.
ü  Kelerengan
Pada umumnya persemaian dibuat pada lahan yang sedatar mungkin. Semakin miring topografinya akan semakin sulit pengerjaan persiapan lapangan dan juga semakin banyak tenaga dan biaya yang dibutuhkan.
Untuk persemaian sedapat mungkin dipilih/digunakan lahan kelas kelerengan relative datar – landai. Pada umumnya diusahakan agar kelerengan untuk areal persemaian kurang dari 10 %.

3)   Kebutuhan bahan
ü  Benih
Dua faktor penting yang perlu mendapat perhatian di dalam penyediaan benih untuk bahan penanaman di persemaian yaitu kualitas dan kuantitas benih. Penyediaan benih yang berkualitas baik dan dalam jumlah yang cukup dan tepat waktu sangat menentukan keberhasilan sesuatu persemaian.
Banyaknya benih yang dibutuhkan suatu persemaian ditentukan beberapa faktor sebagai berikut :
Jumlah semai yang harus dihasilkaan.
Peren perkecambahan (viabilitas) dari benih yang bersangkutan.
Persen jadi semai sampai siap tanam.
Jumlah butir benih tiap kg.\
ü  Pasir dan tanah (jenis medium tumbuh lainnya)
Pada dasarnya bahan pasir (untuk medium ) maupun tanah (atau medium tumbuh yang lain) untuk medium sapihan dipilih yang baik, bebas batu, kerikil dan benda-benda lain. Yang dapat mengganggu pertumbuhan benih yang dikecambahkan maupun pertumbuhan semai hasil sapihan. Benda-benda keras yang dimaksud antara lain kerikil dan batu-batu.
ü  Kantong plastik/container
Kantong plastik/container ini digunakan untuk medium sapihan setelah diisi hampir penuh dengan tanah. Tanah untuk medium sapih dipilih tanah yang baik halus, merata dan dicampur dengan pupuk. Banyaknya kantong plastik yang dipergunakan tergantung beberapa banyak semai yang akan dihasilkan dan berapa besar prosentase kerusakannya.
Ukuran kantong plastik yang dipergunakan bervariasi,tergantung dari cepat pertumbuhan semai. Semakin cepat pertumbuhannya semakin besar ukuran kantong plastik. Warna plastik ada pengaruhnya terhadap pertumbuhan semai, warna kantong plastik hitam mempunyai pengaruh pertumbuhan semai yang baik, bila dibanding dengan warna putih,hijau,kuning, dan merah. Dan kantong plastik warna hitam biasanya lebih awet/tahan lama dibanding dengan yang lain.

D.   Pelaksanaan Pembuatan Persemaian
1)   Persiapan.
Sesudah lokasi persemaian ditentukan, beberapa kegiatan persiapan persemaian yang antara lain :
a.   Pengadaan bahan, yang perlu disiapkan antara lain:
·         Pasir yang baik dan telah distreilkan untuk medium penaburan benih.
·         Bedengan/bak , diberi naungan (atap).
·   Bedengan sapih,diberi naungan,terutama untuk melindungi, semai-semai dari teriknya sinar matahari di siang hari dan hujan yang deras.
·         Kantong plastik /container yang bagian bawah telah diberi lubang-lubang.
·    Tanah yang baik, yang artinya dicampur dengan pupuk TPS untuk pengisian kantong plastik sebagai media sapih.
·         Pupuk TSP dan NPK.
·         Seng atau tripleks untuk label.
·         Fungisida dan Pestisida.
·      Bahan untuk pemagaran persemaian, antara lain kawat berduri, dan kayu atau bambu, tali serta bibit/semai/stek batang , jenis tanaman pagar.
b.  Peralatan/bangunan yang perlu disiapkan adalah:
·       Peralatan/bangunan untuk pangairan antara lain : parit/saluran pangairan,bak penampung air gembor( dan kemungkinan perlu pompa air lengkap dengan peralatannya).
·         Alat menyemprot fungisida/ dan pestisida yaitu spayer.
·         Alat-alat kerja : cangkul, sabit, ganco, gergaji, linggis.
·         Alat pengukuran : meteran/roll meter, kompas.
·         kantor, barak kerja, rumah jaga.
2)   Pelaksanaan.
a.   Persiapan lapangan.
·     Pengukuran batas persemaian dengan pemberian tanda batas yang jelas dan kemudian dipetakan.
·   Pembersihan lapangan dari semak-semak, rumput/alang-alang dan tunggak-tunggak yang ada.
·         Pengerjaan/pencangkulan tanah dengan baik dan meratakannya.
·      Pengaturan tempat, terutama untuk bedengan/bak dan bedengan sapih sesuai hasil pemetaan.
·         Pemagaran persemaian.
·     Pembuatan bedengan/ bak yang diberi pasir bagian atasnya setebal 10-15 cm dan bedengan sapih dengan diberi naungan / atap.
·         Pembuatan jalan angkutan/pengawasan.
·         Pembuatan/pemasangan alat pengairan
·   Pengisian kantong plastik sampai penuh dengan medium tumbuh yang telah dicampur pupuk sebagai medium sapihan, kemudian diatur/disusun di bedengan sapih yang telah disiapkan.
b.  Penaburan benih.
Penaburan benih adalah menanam benih yang telah dipersiapkan / telah melalui perlakuan-perlakuan khusus dibedengan/bak dengan tujuan agar benih dapat berkecambah dengan baik.
Penaburan benih dilakukan secara merata menurut larikan/jalur-jalur atau lubang-lubang yang telah dibuat, kemudian ditutup dengan pasir atau tanah halus setebal 0,5-1 cm/ setebal benih. Secara garis besar penaburan dapat dilakukan tiga cara (1) satu persatu (drill sowing), (2) bentuk garis/baris (line sowing), dan (3) menabur mereta (dust sowing). Dan kemudian ditutup dengan potongan-potongan seresah yang telah disterilkan.
Jarak tanam antara benih dan atara larikan tergantung pada benih dari suatu jenis tanaman. Namun rata-rata 5 cm antar benih dan 5 – 10 cm antar larikan. Untuk benih – benih yang halus/ kecil (misalnya benih Melaleuca spp) agar hasil penaburan benih dapat merata, maka benih yang akan di dicampur dengan pasir. Perbandingan berat/volume campuran benih dan pasir biasanya 1 : 20.
Setelah benih ditutup tanah, segera dilakukan penyiraman sampai pasir/medium cukup basah, kemudian pada setiap bak/bedengan dipasang label yang bertulisan : nomor bak penabur, species/jenis, asal benih tanggal penaburan, dan jumlah/banyak benih yang ditanam.
c.   Penyapihan.
Pengertian penyapihan adalah memindahkan bibit/anak semai dari bedengan/bak ke medium di bedengan sapih. Cara penyapihan, baik pada waktu mencabut/menggali bibit/anak semai di bedengan/bak maupun waktu menanamnya ke medium sapih harus dilakukan dengan hati-hati, jangan sampai batang/akar-akarnya rusak atau tidak tertanam tegak lurus. Waktu penyapihan sebaiknya dilakukan sore hari, dan setelah disapih segara dilakukan penyiraman sampai tanahnya cukup basah. Waktu kecambah (semai anakan) siap disapih tergantung pada jenisnya, biasanya sesudah keluar daun pertama sudah dapat dilakukan penyapihan.
d.  Pemeliharaan persemaian.
·         Penyiraman
Cara pengairan/penyiraman yang paling ekonomis ialah dengan membuat bedengan di hulu sungai dan mengalirkan airnya melalui saluran ke tempat tertinggi di persemaian, kemudian dari situ air dibagi keseluruh areal persemaian dengan cara pembuatan saluran-saluran air kedua (sekunder), dari saluran-saluran kedua ini air dapat langsung mengairi bedengan-bedengan di mana semai dalam kantong plastik ditempatkan.
Cara penyiraman yang biasa dikerjakan ialah penyiraman dengan tangan, yaitu menggunakan gembor, dilakukan 2 kali setiap hari (sekitar pukul 15.00-17.00) dan pagi hari (sekitar pukul. 06.00 - 08.00). Penyiraman berhati-hati, terutama di bedengan/bak untuk menghindari agar kecambah yang masih lemah tidak rusak.
·         Penyiangan/perumputan
Maksud penyiangan/perumputan ialah menghilangkan rumput atau tumbuh-tumbuhan lain (liar) yang tidak diinginkan tumbuh bersama semai. Tujuannya ialah membebaskan semai dari persaingan dengan tumbuhan liar dalam hal memperoleh cahaya, udara, air dan unsur-unsur hara.
Untuk mencegah tumbuhan liar/gulma di persemaian tindakan-tindakan yang dapat dilakukan adalah :
o  lapangan yang akan dipakai untuk persemaian, rumput-rumput atau tumbuhan lainnya dibersihkan dahulu, sedapat mungkin sampai ke akar-akarnya.
o    Benih semai diusahakan jangan sampai tercampur dengan biji tumbuhan liar.
o       Jangan mengizinkan ternak masuk ke persemaian.
o  Tanah, pasir, batu dan bahan-bahan lain yang dipakai sebagai bahan  membuat persemaian diusahakan bersih dari biji dan rizoma tumbuhan  liar.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar